Hari ini, 22 Juni 2008, diadakan pemilihan Gubernur Jateng. Dan seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di postingan Skandal Sex ini, saya golput. Alasan saya golput sederhana saja, saya sudah ga percaya sama pemerintah. Pada waktu kampanye nunduk2 sama rakyat, masuk-masuk pasar, bagi-bagi sembako gratis, minum jamu di pinggiran jalan, peluk2 mbah2 tuwa pedagang tempe di pasar de el el.. bener2 terlihat menjilat. Padahal kalo udah terpilih, dari yang sudah-sudah, mereka mana mau masuk pasar lagi, mana mau meluk orang tuwa miskin lagi. Itu hanya terjadi pada saat kampanye dimana mereka butuh dukungan. Dana kampanye yang mencapai 320 milyar itu akan lebih  baik digunakan untuk membangun perpustakaan ataupun sarana2 umum yang berkualitas ketimbang dihabiskan untuk baliho dan sarana kampanye lainnya yang justru hanya akan menjadi sampah pada saat pilgub berakhir. Bukankah akan lebih baik jika dana kampanye tersebut digunakan untuk membangun sesuatu yang berarti? Dengan demikian rakyat banyak akan memiliki kenang-kenangan manis pada kampanye pilgub ini. Yang saya herankan juga, kalo untuk dana memperbaiki sekolah ataupun membangun sarana umum lain selalu tidak ada uang, selalu tidak ada dana, selalu dipersulit. Namun pada saat kampanye, bisa gila-gilaan dana nya.

Kalo sudah terpilih pun pepatah Habis Manis Sepah Dibuang itu memang benar adanya. Kalo sebelumnya pada waktu pemilu janji ini janji itu, janji sekolah gratis lah, janji bangun ini lah itu lah, kenyataannya nol besar, toh mereka lupa janji mereka sendiri, dan justru mengecewakan rakyatnya dengan balik modal kampanye alias korupsi sebanyak-banyaknya. Sekolah gratis bisa terwujud bila saja pejabat2 kita itu ga korupsi. Kurangnya dana APBN pun tidak seharusnya ditanggung rakyat banyak, itu salahnya pejabat2 yang jadi maling duit rakyat. Korupsi benar-benar membuat negara ini makin terpuruk. Btw, kalo ga sanggup memenuhi janji itu harusnya ya gak perlu lah umbar janji. Sukanya kok memberi harapan palsu.

Bagaimana mau memenuhi janji kalo yang akan digunakan untuk memenuhi janji itu justru diembat sendiri? Jangankan gubernur, bupati2 saja banyak yang bisa disuap demi sejumlah proyek.

Barusan saya pulang dari makan soto di warteg. Di dalam warteg tersebut saya dengar percakapan yang cukup menarik. Bupati di daerah X, sewaktu kampanye menjanjikan sejumlah warganya sebuah proyek yang akan memajukan kesejahteraan ekonomi mereka. Walhasil, banyak yang mencoblos. Setelah terpilih, sang bupati tersebut tidak memenuhi janjinya, dan apabila ditagih janjinya selalu berkelit dengan segala macam cara. Ya mana mungkin lah namanya aja mental maling, begitu terpilih ya langsung balik modal, cari2 cara memperkaya diri, kalo sudah begitu kepentingan rakyat mah nomor kesekian, kalo perlu rakyat ga usah dipikirin, yang penting kaya punya harta miliaran/triliunan, punya tanah dimana-mana, famili terjamin hidupnya meskipun pake uang haram.

Kalo bupati saja begitu, apalagi gubernur. Tersangka korupsi seperti Sukawi Sutarip saja diloloskan mengikuti pilgub, berarti memang pemerintah itu ga punya ketegasan dalam memberantas korupsi. Jika memang pemerintah punya ketegasan memberantas korupsi, seharusnya sebelum meloloskan calon2 gubernur dan wagub pun memperhatikan dan menilik ‘history’ dari cagub-cawagub tersebut, bagaimana ‘track record’ nya di masyarakat. Terutama seputar skandal korupsi dan suap.

Meloloskan tersangka korupsi untuk mengikuti pilgub saya rasa tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang benar. Sudah jelas pemerintah negara ini tidak bisa diharapkan lebih lanjut dalam pemberantasan korupsi. Selama korupsi masih jadi permasalahan nomor satu di Indonesia, saya pun takkan pernah memberikan suara saya pada pemlihan apapun. Golput masih merupakan pilihan terbaik yang saya ambil.




 Berlangganan Feed Koolsonic.Com? Mau dong!


Related post(z):

  1. Semua untuk rakyat? atau untuk kantongmu sendiri pak?
  2. Skandal Sex Max Moein
  3. Akhirnya (blog diary) jadi juga!
  4. Benarkah golput itu sesat?
  5. Kejahatan paling ‘wuenak’ di Endonesa