Your Ad Here

Turut berduka cita atas meninggalnya Mantan Presiden Soeharto setelah melalui perawatan selama 24 hari di RSPP. Semoga amal ibadahnya diterima dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.

Selama pemerintahannya memang terbukti negara aman dan harga sembako dan bahan2 pokok lainnya murah, ditambah lagi biaya pendidikan yang juga sangat terjangkau, meski bagi kaum papa sekalipun. Saya masih ingat, dulu sewaktu SD sekitar awal 90an nenek saya sering menyuruh membeli minyak tanah di agen depan rumah dan nenek saya memberi 1000 rupiah. Saya bawa pulang 5 liter minyak tanah plus kembalian 250 rupiah. Ah indah sekali memang waktu itu apa2 murah. Ditambah lagi buku2 pun saya sering ga usah beli karena sudah dapat ‘lungsuran’ dari kakak2 kelas ataupun bisa beli di pasar loak. Yang pasti masa ‘tayang’ sebuah buku jilid tergolong lama, hingga beberapa taun malah (bandingkan dengan sekarang yang ‘masa tayang’ nya sangat pendek dan buku2 ga bisa dilungsurkan lagi ke adik kelas). Hal ini sangat meringankan beban bapak saya yang waktu itu hanyalah PNS honorer biasa dan ibu saya yang ibu rumah tangga biasa. Saya merasa beruntung bisa lahir dimasa2 itu dan mengecap pendidikan yang murah meriah. Berangkat sekolah pun setiap hari walau hanya dikasi uang saku 100 rupiah tapi bisa dapat 4 gorengan kesukaan saya. Apalagi sejak TK sampe SMU sekolah saya dekat dari rumah semua jadi pulang pergi bisa jalan kaki saja, hehe :).

Tidak hanya saya yang merasakan ‘kenikmatan’ masa2 itu, banyak teman2 saya (yang ekonomi ortunya dulu juga ga jauh beda sama ortu saya, pas2an maksudna,,hehe) yang juga mengatakan hal yang sama. Kaum pas2an di seluruh pelosok negeri ini mungkin juga mengatakan hal yang sama regarding their past times.

Tapi dibalik semua itu ternyata ada ‘harga’ yang harus dibayar. Pemerintahan masa Pak Harto gak pernah lepas dari yang namanya utang luwar negeri dimana yang kudu menanggung ya (sayangnya) generasi penerus. Korupsi2 yang baru ‘terkuak’ di era reformasi tapi gak jelas penyelesaian hukumnya (sambil nyanyi lagu Gantung by Melly ;p). Pembengkokan dan kebohongan sejarah (you know what lah..), penindasan terhadap kebebasan pers dan juga hak asasi manusia (tau khan kalo banyak yang ditangkap tanpa sebab dan tanpa diadili terlebih dahulu, plus disiksa tanpa dikasi tau salahnya apa), de el el.

Presiden SBY selaku instruktur prosesi pemakaman Alm. Soeharto dalam pidatonya di Astana Giribangun meminta segenap masyarakat Endonesa untuk memaafkan kesalahan Pak Harto karena bagaimanapun juga setiap manusia itu tidak ada yang sempurna. Setiap manusia tentunya punya kesalahan dan juga sudah seharusnya kalo yang namanya kesalahan itu dimaafkan. Tapi bukankah yang namanya istilah maaf itu sendiri tidak ada hubungannya dengan proses penegakan hukum? Coba bayangkan kalo seandainya segala peradilan terhadap tindakan penyelewengan hukum ditiadakan hanya karena yang berseteru sudah saling memaafkan? Terus apa gunanya status negara ini sebagai negara hukum dimana hukum bisa ditiadakan dengan kata ‘maaf’???

Hebat ya, mungkin lebih tepat kalo negeri ini disebut Negeri Halal Bihalal.

NB: Di Reportase Sore kemarin (29/01/08, 17.00 WIB), pihak Trans Tipi menghadirkan 3 orang aktivis dan mantan wartawan jaman Soekarno yang mengalami penyiksaan dan pengucilan dijaman Pak Harto, bahkan ada satu nenek2 yang di KTP nya pun masih tertulis ‘PKI’. Nenek tersebut dengan senyum lebar meminta pada pemerintah sekarang untuk mengklarifikasi soal PKI yang sebenarnya TIDAK ADA dan konflik2 yang ada dimasa lalu disebabkan adanya konflik ditubuh AD sendiri. Maaf, saya lupa nama2 mereka, mungkin karena terlalu bergidik dengan kisahnya yang tragis itu.



Related post(z):

  1. Santai…
  2. Akhirnya (blog diary) jadi juga!
  3. Kejahatan paling ‘wuenak’ di Endonesa
  4. A bit ’bout me
  5. Rekaman Percakapan Artalyta Suryani jadi Ringtone!