Pahlawan dalam konteks masa kini pun mungkin masih dikaitkan dengan masa lalu yang tidak jauh dari aksi berani bertempur membela bangsa di kancah peperangan menghadapi penjajah sampai titik darah penghabisan. Masa kini tentunya seorang pahlawan tidak harus identik dengan aksi mengangkat senjata tersebut. Menilik dari ucapan Aunt May dalam film Spiderman:
“I believe there’s a hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride, even though sometimes we have to be steady, and give up the thing we want the most. Even our dreams.”
Yup, dalam blog AnisKamilah mengatakan bahwa menjadi pahlawan itu pilihan. Dengan kata lain siapapun bisa menjadi pahlawan dengan semangat pengorbanan dan menjauhi hal2 yang merugikan orang banyak, jujur dan mementingkan kepentingan umum dibanding ego nya sendiri bahwa merelakan mimpinya demi mewujudkan kebahagiaan orang lain. Bagi orang lain sampeyan bisa jadi adalah pahlawan bagi mereka
.
Dari hasil browsing, berikut beberapa ciri2 seseorang layak disebut pahlawan:
1. Tidak korupsi, kolusi dan nepotisme
2. Berani mengambil sikap untuk mengorbankan kepentingan pribadinya bagi mereka yang lebih membutuhkan, dan demi kepentingan bersama yang lebih luas.
3. Sikap hidup jujur, hidup adil dan tidak menerima suap.
Sehubungan dengan kejujuran, tampaknya membengkokkan sejarah juga termasuk salah satu penodaan terhadap kejujuran.
4. Tidak perlu publisitas untuk memberitahukan perbuatan2 baiknya. Justru orang2 lainlah yang akan menyebarkan kebaikan orang tersebut. Tidak butuh diagung2kan.
5. Tidak berkhianat dan bukan seorang oportunis yang memihak siapa yang pada saat itu kuat. Kenyataannya, SBY justru lebih memilih memberi gelar pahlawan pada seorang pengkhianat macam AA Gde Agung ketimbang menjadikan Bung Tomo sebagai pahlawan. Hmm kalo begitu jangan heran jika nantinya seorang backstabber juga mendapat gelar pahlawan (i hope not!)
6. Bukan seseorang yang otoriter, dengan kata lain seorang pahlawan haruslah bersikap demokratis dan bukannya mengintimidasi dengan cara2 militer.
7. Tidak menyerah dalam perjuangannya. Kalo perjuangan menumpuk kekayaan untuk pribadi dan keluarganya, bagaimana menurut sampeyan?
8. Tidak melakukan pelanggaran HAM. Termasuk penculikan dan pembunuhan orang2 yang melawan kekuasannya.
9. Tidak membodohi orang banyak terutama mengeksploitasi hal2 yang sebenarnya tidak ada untuk membodohi masyarakat.
10. Bukan seorang terdakwa.
Jika You Know Who pada akhirnya nanti diloloskan pemerintah untuk mendapat gelar pahlawan… Selamat! Anda sudah tinggal di sebuah negara yang menjunjung tinggi tindak korupsi dan pelanggaran HAM.
Bahkan seorang terdakwa sekalipun bisa menjadi pahlawan ![]()
Hebat!
Ya emang lain, la wong dari namanya aja sudah lain. Yang sama hanya huruf
depannya aja (Soe). Ternyata yang beda tidak hanya nama tapi juga ‘perlakuan’ yang mereka terima pada saat di ranjang pesakitan. Membaca dari artikel ini mungkin terlalu panjang, jadi disingkat menjadi seperti ini:
1. Lain Soekarno Lain Soeharto
Yup. Ketika Soeharto sakit, wartawan boleh meliput dengan leluasa. Sedangkan pada saat Soekarno sakit, beliau tak tersentuh oleh pers. Pers tertarik untuk meliput tapi Soeharto mengisolasi proklamator tersebut dengan menggunakan militer.
2. Lain Soekarno Lain Soeharto
Yup. Akhirnya terungkap bahwa selama sakit, Bung Karno tidak mendapatkan fasilitas pengobatan yang memadai bahkan bisa dibilang perawatan yang diterimanya adalah kelas rendah dan pelayanan yang jauh dari yang seharusnya diterima seorang pasien gangguan ginjal. Fasilitas seperti obat2 yang baik dan mesin pencuci darah pun walau ada namun tidak diberikan. Intinya, Bung Karno ditelantarkan.
Sedangkan Soeharto, you know lah..bahkan negara aja tadinya berniat menanggung seluruh biaya perawatannya. Selain itu disediakan dokter2 spesialis dan segala fasilitas kelas atas dan paling canggih sekalipun diberikan demi kesembuhan seorang Pak Harto.
3. Lain Soekarno Lain Soeharto
Yup. Bung Karno dirawat oleh seorang dokter dari Dinas Kesehatan AD (yang ‘lucunya’ dokter ini ternyata biasa merawat hewan2 yang ada di Istana Merdeka). Jadi Bunk Karno dirawat oleh dokter hewan? whatthe…
Selain itu salah satu perawat ternyata juga bukan perawat tetapi kowad.
Sehingga bisa dikatakan perawatan yang diterima Pak Harto adalah perawatan kelas super, sementara Bunk Karno kelas bawah.
4. Lain Soekarno Lain Soeharto
Yup. Bunk Karno pada saat sebelum meninggal mengatakan ingin dimakamkan di Istana Batu Tulis (Bogor) tapi seperti yang sudah diketahui, beliau justru dikebumikan di Blitar, didekat makam ibundanya dan dengan ‘tampilan’ makam yang tidak mewah sama sekali. Selain itu makam Bunk Karno tidak boleh dikunjungi siapapun termasuk keluarganya sekalipun sejak tahun 1971 hingga 1979. Kalau mau mengunjungi makam harus minta ijin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan ijin mengunjungi makam? Aya aya wae…
Sebaliknya Soeharto dimakamkan secara mewah dan dengan prosesi adat jawa yang khidmat di Astana Giribangun…
Pertanyaannya, apakah seorang backstabber yang menginjak-injak hak asasi manusia layak mendapat gelar pahlawan?
Turut berduka cita atas meninggalnya Mantan Presiden Soeharto setelah melalui perawatan selama 24 hari di RSPP. Semoga amal ibadahnya diterima dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.
Selama pemerintahannya memang terbukti negara aman dan harga sembako dan bahan2 pokok lainnya murah, ditambah lagi biaya pendidikan yang juga sangat terjangkau, meski bagi kaum papa sekalipun. Saya masih ingat, dulu sewaktu SD sekitar awal 90an nenek saya sering menyuruh membeli minyak tanah di agen depan rumah dan nenek saya memberi 1000 rupiah. Saya bawa pulang 5 liter minyak tanah plus kembalian 250 rupiah. Ah indah sekali memang waktu itu apa2 murah. Ditambah lagi buku2 pun saya sering ga usah beli karena sudah dapat ‘lungsuran’ dari kakak2 kelas ataupun bisa beli di pasar loak. Yang pasti masa ‘tayang’ sebuah buku jilid tergolong lama, hingga beberapa taun malah (bandingkan dengan sekarang yang ‘masa tayang’ nya sangat pendek dan buku2 ga bisa dilungsurkan lagi ke adik kelas). Hal ini sangat meringankan beban bapak saya yang waktu itu hanyalah PNS honorer biasa dan ibu saya yang ibu rumah tangga biasa. Saya merasa beruntung bisa lahir dimasa2 itu dan mengecap pendidikan yang murah meriah. Berangkat sekolah pun setiap hari walau hanya dikasi uang saku 100 rupiah tapi bisa dapat 4 gorengan kesukaan saya. Apalagi sejak TK sampe SMU sekolah saya dekat dari rumah semua jadi pulang pergi bisa jalan kaki saja, hehe
.
Tidak hanya saya yang merasakan ‘kenikmatan’ masa2 itu, banyak teman2 saya (yang ekonomi ortunya dulu juga ga jauh beda sama ortu saya, pas2an maksudna,,hehe) yang juga mengatakan hal yang sama. Kaum pas2an di seluruh pelosok negeri ini mungkin juga mengatakan hal yang sama regarding their past times.
Tapi dibalik semua itu ternyata ada ‘harga’ yang harus dibayar. Pemerintahan masa Pak Harto gak pernah lepas dari yang namanya utang luwar negeri dimana yang kudu menanggung ya (sayangnya) generasi penerus. Korupsi2 yang baru ‘terkuak’ di era reformasi tapi gak jelas penyelesaian hukumnya (sambil nyanyi lagu Gantung by Melly ;p). Pembengkokan dan kebohongan sejarah (you know what lah..), penindasan terhadap kebebasan pers dan juga hak asasi manusia (tau khan kalo banyak yang ditangkap tanpa sebab dan tanpa diadili terlebih dahulu, plus disiksa tanpa dikasi tau salahnya apa), de el el.
Presiden SBY selaku instruktur prosesi pemakaman Alm. Soeharto dalam pidatonya di Astana Giribangun meminta segenap masyarakat Endonesa untuk memaafkan kesalahan Pak Harto karena bagaimanapun juga setiap manusia itu tidak ada yang sempurna. (more…)
Hari Minggu, 20 Januari 2008, jam 12.30 siang. Dering SMS dari hape kulkas berkumandang nyaring bunyinya. Oh ternyata dari tantenya kulkas.
Isi SMS: “Ka, tadi aku ketemu Bu Wawang. Katanya kamu disuruh ambil surat langsung kerumahnya.”
Pas itu kulkas masih dirumah tante kulkas yang laennya.
Wah, masih teringat dilema yang lalu-lalu, Kulkas sempet pesimis pos yang berisi ‘itu’ akan sampe ke tangan kulkas. Dan kulkas pun bertanya2 sendiri kira2 surat apa yah kok kulkas disuruh ambil sendiri..jadi penasaran neh.
So, maghrib itu kulkas ke rumahnya Bu Wawang yang letaknya persis didepan rumah kulkas (kulkas baru tau kalo ternyata sudah sekitar sebulan ini pak pos ’setorkan’ semua pos untuk warga kampung sini ya dirumahnya Bu Wawang ini. Tapi..kulkas tetep heran kok pak pos nya tetep ga mau ya anter ke alamat masing2..;p ya sutralah..). Dan ternyata benar! Akhirnya datang juga cek adbrite yang ditunggu2. Horee..maap ya kalo kulkas katrok, maklum baru pertama kali ini dapet cek sih, hihi.
Nah, sekarang masalah utamanya adalah….dimana mau mencairkan?? dimana?? dimana??
Hari ini blogwalking nemuin beberapa topik yang sama yaitu seputar blog’s reading level. Akhirnya dari blog Ivo ini, kulkas cobain juga deh test unik ini dan inilah haSilnya…